Dia Adalah "Tukang Gorengan"

Sumber Gambar : kata-kata.co

Hari itu tanggal 9 september 2014 tapi mungkin aku salah, aku sudah lupa kapan persisnya yang pasti itu adalah tahun lalu dan bulan September. Siang itu si mba jualan kue dan gorengan di daerah rumahku  yang juga pernah aku ceritakan ditulisanku sebelumnya lewat rumah untuk berjualan. 

Seperti biasa, dengan suara khasnya dia teriak “JARAJAN TEH JAJAN”  Rubby yang saat itu lagi anteng memakan susu, ya memang dimakan tidak diminum, karena dia memilih menghabiskan susunya tanpa air, teriak - teriak manggil si Mba. Sampai akhirnya si Mba menggelarkan dagangannya di depan pintu, “Teh komplit nih jajanannya ayo” ujar si Mba yang lebih cenderung berteriak saat menawarkan itu. Tanpa di suruh Rubby yang saat itu baru berulang tahun ke 3 langsung menyerbu dagangan si Mba, selesai rubby memilih makanan aku juga berniat untuk membelikan si aki cemilan yang memang waktu itu sedang berada di rumahku, selagi memilih-milih makanan buat si aki si mba tiba-tiba cerita.

"Teh saya belum cerita ya? anak saya kena kelenjar dileher,kemarin baru aja diperiksa."

"Loh kok bias mba?" jawabku tersentak.

"Iya teh, pertamanya dia bilang sakit leher ya saya bawa periksa aja takutnya kenapa - kenapa, ternyata bener aja pas diperiksa ada kelenjar dilehernya." dia menjawab sambil tertunduk. Mungkin itu cara dia bersedih.

"Waduh mba, terus gimana keadaan Denis ( nama anakanya) sekarang?"

"Harusnya dioperasi, tapi saya ya uang darimana ,saya coba berobat jalan aja teh."

Aku tterdiam seolah merasakan kesedihannya, masih ingat dalam ingatanku, beberapa bulan lalu waktu dia jualan dia ngga bawa anaknya, pas aku tanya "Mba denis ngga ikut jualan?"  dia meggelengkan kepalanya yang mewakili jawabannya bahwa anaknya memang tidak ikut dan menjelaskan alasannya bahwa anaknya baru saja keluar dari Rumah Sakit gara - gara sakit paru-paru basah. Dan sampai saat ini penyakit anaknya itu belum sembuh dia masih harus berobat jalan sampai November nanti, itupun jika tuntas, kalau berkelanjutan dia harus tetap berobat jalan sampai 9bulan lagi. Dan sekarang bertambah dengan kelenjar?

"Teh!!” si mba membuyarkan lamunan saya.

"Ini semuanya 8ribu” sambung si Mba.

"Loh kok cuma 8ribu? ini banyak loh, coba hitung lagi Mbak!"

"Ngga apa-apa itu saya tambahin, kan langganan Teh, hehehe.” 

Saya menolak, tapi si Mba tetep kekeuh padahal kalau dihitung seharusnya saya bayar semua makanan itu 10ribu, dari mana dia dapat bati dagangnya kalau begini? Tapi dia malah bilang 

" Ngga apa-apa teh minta doanya aja ya teh".

Entah gimana caranya ucapan si Mba rasanya buat aku tersentak, dia bukan penjual pertama yang memberikan aku bonus, tapi dia yang rasanya buat aku berfikir bahwa betapa kurang bersyukurnya aku selama ini. "Dia" si Mba dari Cilacap yang tinggal ngontrak di Bandung, yang setiap hari keliling dagang gorengan titipan orang lain dan buruh cuci kalau ada, yang upahnya tidak seberapa, yang cuma tinggal berdua bersama anaknya yang sakit, yang suaminya mencapakan dia, yang selalu menggendong anaknya setiap berjualan keliling, yang anaknya beberapa bulan ini harus terus berobat karena sakit paru-paru basah dan kemarin dideteksi ada kelenjar di lehernya, "Dia" si Mba yang luar biasa perjuangannya.

Walaupun aku tidak mengenal seluk buluk dan kesehariannya, aku melihat setiap tetes keringatnya adalah usaha, perjuangan, pengorbanan. Ahh tidakkah aku malu melihat semua ini?Aku yang sampai detik ini masih bisa makan tanpa harus bekerja keras, yang setiap ingin makan enak pasti bisa,yang setiap sakit tidak sulit orang tua memberi uang untuk ke dokter. Tidakkah aku malu melihat semua ini? Malu dengan semua yang aku miliki, tapi aku masih saja sering mengeluh? Bahkan aku sering lupa untuk bersyukur, bersyukur dengan semua yang aku mikliki.


Ahhh sungguh aku ini merasa malu, malu atas kesombonganku yang tak pernah bersyukur atas semua yang ku miliki. Malu atas kemarahan saat aku tak bisa memilik apa yang aku inginkan. Terimakasih untuk "Dia" si Mba tukang gorengan, terimakasih atas kehidupanmu yang buat aku tersadar bahwa hidup itu memang harus diperjuangkan dengan usaha dan do'a serta rasa bersyukur. Semoga "Dia" sehat selalu, disehatkan anaknya, dan tetap dikuatkan semangatnya, sekuat kehidupan ini. Dan untuk mamah dan bapak,  aku meminta maaf mudah-mudahan kalian selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Sendu

Hadiah Yang Bukan Hadiah

Malam Yang Terlalu Malam dan Pagi Yang Terlalu Pagi