XL Perekat Cinta Long Distance Relationship

Jam di screen laptopku menunjukan pukul 22.01, "Diantara kita tlah terjalin sudah benang - benang asmara" lantunan lagu Untukmu dari Tito Sumarsono ikut membawaku terhanyut dalam dingin-nya udara malam di kota Bandung. Dengan lagu yang aku dengarkan, kalian pasti menyangka aku remaja pada tahun 90an. Kalau memang benar, kalian keliru. Aku memang penggemar lagu – lagu 90an padahal pada saat itu aku baru lahir, entahlah..  Malam ini memang sedikit berbeda, sore tadi hujan badai turun  mengakibatkan sebagaian daerah di kota Bandung banjir bahkan pohon tumbang.  Semoga tidak terjadi korban…


Saat ini aku berada dikamar, sepi. Lagu – lagu yang aku putar di notebook seolah seirama dengan udara dingin untuk membawa pikiranku jauh ke belakang. Mengingat semua hal yang pernah aku lakukan, entah kenapa pikiranku berhenti pada masa saat aku menjalin hubungan dengan seseorang. Dia merupakan seseorang yang selama setahun pernah menjadi orang terdekatku.

Semuanya berawal dari saat pertama kali aku memiliki smartphone.  Saat itu Bandung adalah akhir tahun 2011, aku baru tiba di rumah sekitar pukul 7 malam sehabis adzan isya. Senang tak kepalang malam itu menghampiriku yang sedang asyik mengulik smartphone terbaru yang baru saja aku beli, iya aku baru saja pulang dari BEC ( Bandung Electronic Center ). Membeli smartphone memang sudah aku idam - idamkan sejak lama, akhirnya aku dapat membelinya dari hasil menabung selama beberapa bulan, ya meskipun aku harus memotong uang jajanku selama beberapa bulan itu.


Setelah dapat memahami isi dari smartphone itu aku mulai dengan membuka aplikasi BBM yang sedang booming pada saat itu, aku juga mulai mengkontak teman - temanku dengan menanyakan PIN mereka. Beberapa waktu berselang, ketika aku sedang online facebook di smartphone baruku ada salah satu temanku memulai obrolan dengan menyapa "Hai! Apa kabar? udah lama ga kontak, boleh minta PIN?" dengan cepat aku membalas obrolan itu dengan memberinya PIN. Dia adalah teman kecilku saat tinggal di kota Sumedang dan sekarang Ia tinggal di Bekasi.

Berselang waktu, entah kenapa setiap harinya dia selalu mencoba memulai obrolan. Sampai akhirnya chatting dengannya sudah menjadi kebiasaanku di sela – sela kesibukanku. Saking seringnya intensitas waktu yang kami pakai untuk chatting, hubungan kita pun menjadi dekat.  Dan akhirnya kita memutuskan untuk bertemu di akhir tahun ini sekaligus merayakan momen tahun baru bersama. Dia berjanji untuk datang ke Bandung bertemu denganku saat liburan sekolah nanti, iya pada saat itu aku dan dia memang masing – masing masih berstatus pelajar dan dia berada satu tahun dibawahku.

Desember tanggal 30, dia memenuhi janjinya untuk datang ke Bandung, entah kenapa aku merasa sangat senang. Di detik detik pergantian tahun 2011 aku ajak dia pergi ke Dago untuk bisa merayakan pergantian tahun di tempat yang ramai, tanpa aku kira saat orang lain bergembira mengakhiri tahun 2011 dia malah sedang berusaha memulai pembicaraan tentang tujuannya datang kesini. Dia mencoba untuk mengutarakan sesuatu, meskipun aku lihat dia kesulitan untuk itu. Tapi aku mengerti maksud yang dia ingin dia bicarakan. Iya dia menyukaiku dan dia meminta untuk aku menjadi teman dekatnya, entah apa yang aku lakukan saat itu, tanpa berpikir panjang aku hanya menjawabnya dengan kata “Iya”.

Seolah merasakan kebahagiaan yang kami rasakan, dunia pun merayakannya dengan pesta kembang api yang secara bersamaan dinyalakan. Padahal kami tau itu bukan untuk merayakan resminya hubungan kita tentunya saat itu adalah jam yang tepat menunjukan pukul 12:00 dan tanggal 01 Januari. “Iya ini adalah tahun baru dan aku punya pacar baru” teriakku dalam hati sebari memegang erat tangannya.

Pesta perayaan tahun barupun berakhir dan entah kenapa ini juga seakan menjadi akhir bagi kebahagiaanku yang baru saja dibuat tadi malam. “Dia” pacar baruku harus pulang ke Bekasi, liburan memang belum berakhir tapi dia harus pulang karena suatu hal. Ah entah kenapa aku merasa begitu berat. Dibalik berbunga - bunganya saat sudah meresmikan hubungan, kita merasa sedikit terbebani oleh satu kata yakni "Jarak". Kita harus menjalani hubungan jarak jauh.

Hari demi hari kita habiskan untuk berkabar di chatting. Tentunya rasa rindu tidak bisa kita obati hanya dengan melakukan obrolan via BBM. Sesekali kita mengobati rasa kangen via telepon, namun karena pada saat itu kita yang berstatus pelajar tentunya sangat berat jika harus terus menerus bertukar kabar lewat telepon. Untuk bisa mengobrol di telepon itu harus memakai pulsa yang cukup banyak. Sampai akhirnya kita sepakat untuk berganti provider agar bisa lebih hemat, sempat beberapa kali berganti provider namun belum menemukan yang pas, karena saat itu banyak sekali provider yang menawarkan promo namun pada kenyataannya tetap terbilang mahal untuk kantong pelajar seperti kita.


Tut..tut..tut... sambungan telepon tiba-tiba terputus di tengah perbincangan kita.
"Pulsaku habis nih! katanya murah tapi nelfon setengah jam udah abis aja pulsa, suaranya juga putus - putus." Aku bisa tau bahwa dia sedang menggerutu.
"Yah padahal masih kangen, kita ganti provider lagi aja gimana? cari yang lebih murah deh." Balasku dengan cepat.
"Pake apa? kayaknya cape deh terus - terusan ganti."
"Aku cari promo dulu deh ya, hehe."

Besoknya, sehabis pulang sekolah aku coba pergi ke konter pulsa untuk mencari provider yang murah dan berkualitas, maksudnya jaringannya yang kuat. Sampai akhirnya aku membeli provider XL atas rekomendasi dari si Abang konter pulsa. Tak sabar, sampai rumah aku langsung mengganti sim card di smartphone ku dengan XL dan langsung memberi tahu nomor baruku ke pacarku dan menyuruhnya agar segera mengganti provider lamanya dengan XL.

Tak lama kemudian ada nomor XL masuk ke nomor baruku aku sudah menduga itu pacarku, aku angkat dan mulai mencoba berkomunikasi dengan provider baruku. Pada durasi 1 menit aku menyuruh pacarku untuk mematikan teleponnya dan meneleponku kembali, itu aku lakukan sengaja karena pada saat itu seingatku, XL123 gratis telepon setelah beberapa menit telepon, aku lupa detilnya. Tak lama pacarku menelfonku kembali, aku angkat dan hampir satu jam kita berbincang lewat telepon tanpa putus - putus. Hampir menit ke 60 aku memutuskan untuk menyudahi perbincangan karena ngantuk. Sebelum pergi ke kamar untuk tidur, aku mencoba mengirim pesan kepada pacarku.

"Pulsa abis ga? enak nih tadi ngobrolnya ga putus – putus. Selamat malam ya." Pesan ku kirim lewat BBM.
"Engga nih, pulsa cuma kepotong 2ribu aja pas pertama telfon tadi. hehe." Balas dia beberapa menit kemudian.

Dalam hal ini, jaringan telekomunikasi selular telah menjadi penyambung lidah antara kami berdua. Jaringan yang bagus karena sudah tersebar di berbagai daerah, membuat kami merasa nyaman. Jarak bukanlah penghalang untuk kita menjadi lebih dekat. Seperti yang dikatakan oleh Pidi Baiq jarak hanyalah nama sebuah pohon.


*Tulisan ini sengaja aku tulis dalam rangka lomba menulis blog Life With Xl di #19thBersama

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Sendu

Hadiah Yang Bukan Hadiah

Malam Yang Terlalu Malam dan Pagi Yang Terlalu Pagi